Pakaian Renang Dianjurkan Berbahan Apa Sih? 

Belanja produk fashion original hingga kecantikan dan terlengkap di ZALORA. Dapatkan diskon hingga penawaran harga murah khusus untukmu! 

Memilih pakaian renang yang tepat akan memberikan kenyamanan dan keamanan saat berenang. Pakaian renang yang pas dan nyaman akan memungkinkan pergerakan tubuh yang bebas dan tidak terbatas di dalam air. Ketika memilih pakaian renang, pastikan untuk memperhatikan beberapa faktor penting, salah satunya adalah bahannya. Pilihlah bahan yang elastis dan cepat kering untuk memastikan kenyamanan dan mengurangi iritasi kulit.

Lalu, pakaian renang dianjurkan terbuat dari bahan apa sih yang bagus? Berikut bahan pakaian renang yang sebaiknya kamu pilih!

Baca juga : Hobi Renang? Coba Teknik Renang Gaya Bebas Ini

Pakaian Renang Dianjurkan Berbahan Apa?

1. Polyester

Pakaian renang berbahan polyester adalah pilihan yang paling banyak dipakai untuk baju renang, karena keunggulannya dalam daya tahannya. Polyester adalah bahan sintetis yang kuat, tahan lama, dan cepat kering. Membuatnya ideal untuk pakaian renang yang sering terpapar air dan sinar matahari. Pakaian renang berbahan polyester memiliki sifat elastis yang membuat nyaman saat bergerak di dalam air. 

Selain itu, polyester juga tahan terhadap klorin, sehingga pakaian renang ini lebih awet dan tidak mudah rusak saat digunakan di kolam renang. Selain itu, dapat melindungi kulit dari bahaya klorin itu sendiri. Karena sifatnya yang cepat kering, pakaian renang polyester juga lebih mudah untuk dirawat dan cepat kembali kering setelah digunakan. 

Source: ZALORA

Seperti koleksi Td Active LSA22 set baju renang muslim hijab yang satu ini! Baju renang ini sudah dilengkapi dengan sun protection yang melindungi dari paparan sinar UV. Tentunya, tahan terhadap air kaporit!

Baju ini didesain khusus untuk para hijabers, di mana dibuat dengan model pelindung penutup penuh yang menutup hampir seluruh bagian atas tubuh. Perawatannya pun mudah dan bahannya kuat, awet, dan tahan lama.

Kekurangan Polyester Sebagai Baju Renang

1. Kurang Menyerap Keringat dan Sirkulasi Udara Buruk

Polyester merupakan serat sintetis yang tidak memiliki daya serap keringat sebaik bahan alami atau material tertentu yang dirancang khusus untuk aktivitas intens. Saat digunakan sebagai baju renang atau pakaian olahraga air, kain ini cenderung menahan kelembaban di permukaan kulit. Akibatnya, area tubuh bisa terasa lembab, panas, dan kurang nyaman, terutama ketika berada di luar air atau digunakan dalam waktu lama di cuaca panas. Sirkulasi udara yang kurang baik juga membuat kulit sulit “bernapas”, sehingga kenyamanan pemakaian berkurang.

2. Mudah Menyerap dan Menahan Bau

Karena keringat dan kelembaban tidak terserap dengan optimal, bau badan, bau klorin, maupun aroma air laut lebih mudah menempel pada serat polyester. Bau ini sering kali tidak langsung hilang meski sudah dicuci sekali, sehingga pakaian renang berbahan polyester cenderung cepat berbau tidak sedap. Hal ini membuat pengguna perlu mencuci baju renang lebih sering dan dengan perawatan khusus.

3. Tingkat Elastisitas yang Terbatas

Dibandingkan dengan bahan seperti nylon atau campuran spandex, polyester memiliki tingkat elastisitas yang lebih rendah. Akibatnya, baju renang berbahan polyester bisa terasa lebih kaku dan kurang mengikuti gerakan tubuh. Saat berenang atau melakukan aktivitas air yang membutuhkan kelenturan tinggi, keterbatasan elastisitas ini dapat mengurangi kenyamanan dan fleksibilitas. Terutama bagi pengguna yang aktif bergerak atau berolahraga di dalam air.

4. Dampak Lingkungan yang Perlu Dipertimbangkan

Polyester diproduksi dari bahan berbasis minyak bumi yang memerlukan energi besar dan penggunaan bahan kimia dalam proses pembuatannya. Selain itu, polyester termasuk material yang sulit terurai secara alami, sehingga dapat berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan dalam jangka panjang. Limbah mikroplastik dari serat polyester yang terlepas saat pencucian juga menjadi isu lingkungan serius. Membuat bahan ini dianggap kurang ramah lingkungan dibandingkan alternatif yang lebih berkelanjutan.

5. Potensi Menyebabkan Iritasi Kulit

Sebagai bahan sintetis, polyester tidak selalu cocok untuk semua jenis kulit. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki kulit sensitif, pemakaian baju renang berbahan polyester dapat memicu rasa gatal, kemerahan, atau iritasi. Terlebih jika dikenakan dalam kondisi lembab dalam waktu lama. Kurangnya sirkulasi udara juga dapat memperparah ketidaknyamanan pada kulit, sehingga perlu kehati-hatian dalam memilih material ini, terutama untuk pemakaian jangka panjang.

Baca Juga : Rekomendasi Celana Jogger Wanita Terbaik untuk Olahraga

2. Nylon

Source: ZALORA

Bahan pembuat pakaian renang berikutnya adalah nylon. Nylon adalah bahan sintetis yang kuat, ringan, dan tahan terhadap air, sehingga ideal digunakan dalam pakaian renang. Bahan ini memiliki sifat elastisitas yang baik, memungkinkan pakaian renang untuk menyesuaikan dengan bentuk tubuh. Karena itu, baju renang dari nylon begitu nyaman dipakai tanpa memberikan rasa terlalu ketat. 

Bahan nylon juga anti air, sehingga pakaian renang tidak akan terlalu basah dan berat ketika dipakai saat berenang maupun setelah berenang. Namun, bahan nylon tidak tahan klorin, sehingga tidak begitu tahan lama jika dibandingkan dengan bahan polyester. Pakaian renang berbahan nylon cocok digunakan dalam berbagai kegiatan renang dan aktivitas air lainnya.

Kekurangan Nylon Sebagai Baju Renang

1. Kurang Breathable dan Cepat Menimbulkan Rasa Lembab

Nylon memiliki struktur serat yang rapat sehingga sirkulasi udara di dalam kain tergolong kurang baik. Ketika digunakan sebagai baju renang, terutama dalam aktivitas yang cukup intens, panas tubuh dan keringat mudah terperangkap di antara serat kain. Akibatnya, kulit terasa cepat lembab dan gerah saat berada di luar air atau setelah berenang. Kondisi lembab yang berlangsung lama ini dapat menurunkan kenyamanan pemakaian dan membuat baju terasa lengket di kulit.

2. Mudah Menyerap Bau Tidak Sedap

Lingkungan yang lembab pada kain nylon menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang. Bakteri inilah yang kemudian memicu munculnya bau tidak sedap, baik dari keringat, air laut, maupun klorin kolam renang. Jika baju renang berbahan nylon tidak segera dicuci dan dikeringkan dengan benar, bau tersebut cenderung menetap dan sulit dihilangkan. Meski sudah melalui proses pencucian berulang kali.

3. Sensitif terhadap Paparan Panas

Salah satu kelemahan utama nylon adalah titik lelehnya yang relatif rendah dibandingkan beberapa bahan sintetis lain. Paparan panas berlebih, seperti setrika bersuhu tinggi, mesin pengering panas, atau bahkan sumber api, dapat membuat kain nylon meleleh, berubah bentuk, atau kehilangan elastisitasnya. Hal ini membuat perawatan baju renang berbahan nylon harus dilakukan dengan ekstra hati-hati agar tidak cepat rusak.

4. Kurang Tahan terhadap Sinar UV

Paparan sinar matahari secara terus-menerus dapat berdampak buruk pada serat nylon. Dalam jangka panjang, sinar UV dapat menyebabkan serat kain menjadi rapuh, mudah sobek, serta mengalami perubahan warna seperti pudar atau menguning. Bagi baju renang yang sering digunakan di pantai atau kolam terbuka, hal ini bisa memperpendek usia pakai pakaian secara signifikan.

5. Tidak Ramah Lingkungan

Nylon merupakan bahan sintetis yang berasal dari turunan minyak bumi, sehingga proses produksinya memerlukan energi besar dan menghasilkan jejak karbon yang tinggi. Selain itu, nylon termasuk material yang sulit terurai secara alami, sehingga berpotensi menambah beban limbah tekstil dan pencemaran lingkungan. Dalam konteks keberlanjutan, bahan ini masih dianggap kurang ramah lingkungan dibandingkan alternatif yang lebih eco-friendly.

6. Berpotensi Menyebabkan Iritasi Kulit

Bagi sebagian orang dengan kulit sensitif, baju renang berbahan nylon dapat memicu rasa gatal, kemerahan, atau iritasi. Kondisi kain yang cenderung lembab dan kurang breathable dapat memperparah reaksi kulit, terutama jika dikenakan dalam waktu lama. Oleh karena itu, pengguna dengan kulit sensitif perlu mempertimbangkan bahan lain atau memastikan baju renang segera dilepas dan dikeringkan setelah digunakan.

3. Elastane

Pakaian renang yang terbuat dari bahan elastane sering juga disebut sebagai spandex atau Lycra. Pakaian berbahan elastane ini nggak kalah populer dan menguntungkan dari pilihan bahan sebelumnya. Elastane adalah serat sintetis yang sangat elastis dan fleksibel, sehingga memberikan keleluasaan gerakan yang lebih baik saat berenang.

Keunggulan utama dari pakaian renang berbahan elastane adalah kemampuannya untuk mengikuti bentuk tubuh, memberikan kenyamanan dan penampilan yang terbaik. 

Source: ZALORA

ZALORA punya koleksi bikini yang terbuat dari kombinasi bahan nylon dan elastane, Daisee Ribbed Bikini Top dari Athlecia! Cropped bikini top ini dibuat dengan desain minimalis yang simple. Tersedia dalam pilihan warna, ada kuning pastel, lavender, dan abu-abu. Cocok dipakai untuk berenang di pantai.

Kekurangan Nylon Sebagai Baju Renang

1. Kurang Menyerap Keringat

Elastane dikenal sebagai bahan yang sangat elastis, namun daya serap keringatnya tergolong rendah. Keringat cenderung tertahan di permukaan kain dan tidak cepat menguap, sehingga baju renang terasa lembab saat dipakai, terutama setelah digunakan dalam waktu lama atau di luar air. Kondisi lembab ini juga dapat memicu munculnya bau tidak sedap jika pakaian tidak segera dicuci dan dikeringkan dengan benar.

2. Sensitif terhadap Panas

Serat elastane sangat rentan terhadap paparan panas berlebih. Sinar matahari langsung dalam waktu lama, suhu setrika yang terlalu tinggi, atau penggunaan mesin pengering panas dapat merusak struktur seratnya. Akibatnya, elastane bisa kehilangan elastisitasnya, menjadi cepat melar, atau bahkan rusak secara permanen, sehingga bentuk baju renang tidak lagi pas di tubuh.

3. Dapat Terasa Panas Saat Dipakai

Jika kandungan elastane dalam kain sangat tinggi atau tidak dikombinasikan dengan bahan lain yang memiliki sirkulasi udara baik, baju renang bisa terasa panas dan kurang nyaman, terutama di iklim tropis. Kurangnya sifat breathable membuat panas tubuh terperangkap di dalam kain, sehingga pemakai mudah merasa gerah saat berada di luar air.

4. Memerlukan Perawatan Khusus

Baju renang berbahan elastane membutuhkan perlakuan ekstra dalam perawatannya. Kain ini tidak boleh disetrika dengan suhu tinggi, direndam terlalu lama, atau dicuci dengan bahan kimia keras. Kesalahan dalam perawatan dapat mempercepat kerusakan serat elastane, menyebabkan kain menjadi kasar, melar, atau kehilangan daya elastisnya.

5. Harga Relatif Lebih Mahal

Dibandingkan bahan non-elastis, elastane cenderung memiliki harga yang lebih tinggi. Hal ini membuat produk baju renang dengan kandungan elastane cukup signifikan sering kali dibanderol lebih mahal. Bagi sebagian orang, faktor harga bisa menjadi pertimbangan tersendiri, terutama jika penggunaan tidak terlalu sering.

6. Berpotensi Mudah Melar

Meski elastane dirancang untuk lentur, penarikan berlebihan secara terus-menerus dapat menyebabkan seratnya melar secara permanen. Jika tidak digunakan dan dirawat dengan benar, baju renang bisa kehilangan bentuk aslinya, terasa longgar, dan tidak lagi memberikan dukungan yang optimal pada tubuh.

Nah, itulah beberapa jawaban atas pertanyaan pakaian renang dianjurkan berbahan apa yang pastinya nyaman dipakai. Selain bahan, perhatikan juga ukuran baju yang pas untuk tubuhmu agar pergerakan di dalam air lebih nyaman dan leluasa. 

Baca juga : Pelajari Teknik Renang Gaya Dada Agar Makin Jago! 

Mau cari berbagai outfit olahraga renang yang berkualitas dengan harga terjangkau? Cek koleksi selengkapnya hanya di ZALORA! Dapatkan promo spesial yang menarik untukmu!

Penulis: Fitrian Nurentama